Review The New Mutants: Perpaduan Genre Horor dan Superhero dalam Dunia X-Men

The New Mutants adalah salah satu film yang paling unik dan penuh eksperimen dari jagat sinema X-Men. Dirilis pada tahun 2020 setelah serangkaian penundaan yang cukup panjang, film ini menawarkan sesuatu yang berbeda dari film-film X-Men sebelumnya. Alih-alih menyuguhkan aksi besar dan peperangan antar mutan seperti biasanya, The New Mutants mencoba menggabungkan elemen horor psikologis dengan drama remaja dan genre superhero. Hasilnya adalah sebuah karya yang terasa segar namun juga menuai beragam pendapat.

Film ini disutradarai oleh Josh Boone, yang sebelumnya dikenal lewat film romantis remaja The Fault in Our Stars. Kali ini, ia mencoba sesuatu yang jauh berbeda: menciptakan suasana yang gelap, mencekam, dan menegangkan dalam dunia mutan. Meskipun menghadapi tantangan besar selama proses produksi dan rilis, film ini tetap memberikan pengalaman menonton yang cukup menarik, terutama bagi penonton yang ingin melihat sisi lain dari dunia X-Men.

Lalu, apa saja yang membuat The New Mutants layak dibahas? Bagaimana film ini menyajikan perpaduan antara horor dan superhero? Mari kita ulas lebih mendalam dalam review lengkap berikut ini.

Cerita yang Lebih Intim dan Tertutup

Berbeda dari kebanyakan film X-Men yang memiliki cakupan luas, setting internasional, dan banyak karakter terkenal, The New Mutants memilih pendekatan yang lebih tertutup dan personal. Cerita berfokus pada lima remaja mutan yang dikurung di sebuah fasilitas rahasia yang katanya bertujuan untuk membantu mereka mengendalikan kekuatan masing-masing.

Kelima karakter tersebut adalah:

  • Danielle Moonstar (Blu Hunt) – Seorang gadis muda dari suku Cheyenne yang kekuatannya belum diketahui di awal film. Ia menjadi pusat dari cerita utama dan konflik besar dalam film.
  • Rahne Sinclair (Maisie Williams) – Seorang mutan asal Skotlandia yang bisa berubah menjadi serigala. Rahne mengalami konflik batin antara kekuatannya dan keyakinan agama.
  • Illyana Rasputin (Anya Taylor-Joy) – Seorang mutan Rusia yang bisa membuka portal ke dimensi lain dan memiliki pedang sihir. Ia dikenal dengan sikap sarkastik dan trauma masa kecil.
  • Sam Guthrie (Charlie Heaton) – Remaja dari Kentucky dengan kemampuan terbang secepat roket namun tak terkontrol, dan merasa bersalah atas kecelakaan masa lalu.
  • Roberto da Costa (Henry Zaga) – Anak orang kaya dari Brasil yang bisa menyerap dan mengendalikan energi matahari, tetapi menyimpan rasa takut akibat insiden di masa lalu.

Mereka semua diawasi oleh Dr. Cecilia Reyes (Alice Braga), seorang mutan dewasa yang memiliki kemampuan menciptakan medan pelindung. Dr. Reyes menyatakan bahwa fasilitas itu adalah tempat rehabilitasi, namun seiring berjalannya cerita, para mutan mulai menyadari bahwa mereka mungkin bukan sedang disembuhkan, melainkan sedang diuji atau bahkan dikurung oleh kekuatan yang lebih besar.

Cerita menjadi semakin intens ketika kekuatan Danielle ternyata dapat memanifestasikan ketakutan terdalam seseorang menjadi nyata. Ini membuat seluruh penghuni fasilitas mulai dihantui oleh mimpi buruk yang mengerikan dan tampak nyata—dari trauma masa lalu hingga wujud makhluk menyeramkan seperti Demon Bear.

Elemen Horor yang Mencoba Menembus Genre Superhero

Salah satu kekuatan utama film ini adalah keberaniannya untuk menjelajahi ranah horor dalam dunia mutan. Film ini banyak menggunakan atmosfer menyeramkan, musik yang membangun ketegangan, serta visual mimpi buruk yang mengerikan untuk menciptakan suasana horor psikologis.

Alih-alih menampilkan pertarungan penuh ledakan dan efek khusus seperti yang biasa kita lihat dalam film X-Men, The New Mutants lebih fokus pada ketakutan pribadi dan trauma masa lalu setiap karakter. Sebagai contoh:

  • Rahne dihantui oleh masa lalunya di mana ia dianggap sebagai penyihir oleh komunitas gereja karena kekuatannya.
  • Illyana menghadapi sosok boneka menyeramkan dari masa kecilnya yang disebut “Smiling Men”, makhluk dengan wajah kosong yang sangat disturbing.
  • Sam selalu dihantui oleh kejadian di tambang batu bara yang menewaskan beberapa orang karena kekuatannya sendiri.

Nuansa horor ini cukup kuat, meskipun tidak sampai pada level yang benar-benar mengerikan seperti film horor murni. Namun, sebagai perpaduan antara genre, film ini berhasil membangun suasana yang berbeda dari film superhero biasa.

Pengembangan Karakter yang Lebih Dalam

Hal menarik lainnya dari The New Mutants adalah fokusnya pada perkembangan karakter. Karena hanya ada lima karakter utama yang menjadi fokus, penonton bisa lebih memahami latar belakang, trauma, dan hubungan antar mereka.

Hubungan antara Rahne dan Danielle, misalnya, digambarkan dengan cukup sensitif. Kedekatan mereka bahkan mengarah pada romansa sesama jenis yang ditampilkan secara halus dan emosional, bukan sekadar tempelan. Ini menjadi langkah maju dalam representasi LGBTQ+ di dunia superhero.

Illyana, meski pada awalnya terlihat menyebalkan dan suka mengolok-olok, perlahan ditampilkan sebagai seseorang yang menyimpan luka mendalam. Transformasinya menjadi karakter yang lebih empatik menjadi salah satu highlight di film ini.

Meski demikian, karena durasi film yang terbatas dan naskah yang cukup padat, beberapa pengembangan karakter terasa masih bisa lebih dieksplorasi, terutama untuk karakter seperti Roberto dan Sam yang latarnya cukup menarik tapi kurang mendapatkan sorotan.

Akting dan Visual yang Cukup Solid

Film ini dibintangi oleh aktor-aktor muda yang sudah memiliki pengalaman di film besar maupun serial populer. Maisie Williams membawa ketulusan dan kelembutan dalam perannya sebagai Rahne, kontras dengan peran sebelumnya sebagai Arya Stark. Anya Taylor-Joy, seperti biasa, tampil penuh pesona dan kekuatan dalam perannya sebagai Illyana, dan menjadi salah satu elemen paling mencolok dalam film ini.

Blu Hunt, sebagai pemeran utama, menghadirkan Danielle dengan nuansa polos, bingung, namun perlahan menemukan keberanian dalam dirinya. Aktingnya mungkin tidak sekuat rekan-rekannya, tetapi cukup untuk membawa emosi dari karakter yang penuh ketakutan.

Dari segi visual, film ini mengandalkan efek yang lebih sederhana namun efektif. Makhluk-makhluk seperti Demon Bear dan Smiling Men dibuat menyeramkan dengan desain yang tidak terlalu over-the-top, dan sinematografi yang kelam mendukung suasana horor dengan cukup baik.

Tantangan dan Keterbatasan Produksi

Sebelum dirilis, The New Mutants menghadapi banyak hambatan. Film ini selesai syuting pada 2017 dan rencananya dirilis pada 2018, namun ditunda beberapa kali karena studio ingin menambahkan elemen horor yang lebih kuat, lalu terjadi merger antara Fox dan Disney, ditambah lagi pandemi COVID-19.

Akhirnya film ini dirilis pada Agustus 2020 di tengah situasi bioskop yang belum pulih, sehingga banyak penonton yang melewatkan film ini saat tayang. Bahkan tidak ada reshoot besar seperti yang semula direncanakan, dan film dirilis hampir seperti versi awalnya.

Ini mungkin berkontribusi pada kesan bahwa film ini terasa kurang matang di beberapa bagian, terutama dari segi pacing dan akhir cerita yang agak terburu-buru.

Kesimpulan: Eksperimen yang Layak Dihargai

The New Mutants memang bukan film superhero yang sempurna. Ia tidak memiliki skala besar atau aksi bombastis seperti X-Men: Days of Future Past atau Logan, dan juga tidak setegas film horor murni. Namun justru karena keberaniannya menggabungkan dua genre yang kontras—horor dan superhero—film ini terasa istimewa.

Bagi penonton yang menyukai cerita karakter, drama psikologis, dan suasana mencekam, film ini menawarkan pengalaman yang menyenangkan sekaligus emosional. Apalagi dengan kehadiran karakter-karakter muda yang mencoba memahami diri mereka di tengah kekuatan yang tidak bisa dikendalikan.

Sebagai bagian dari jagat X-Men, film ini juga membuka peluang besar untuk eksplorasi karakter-karakter baru, walaupun sayangnya tidak ada kelanjutan langsung karena perubahan arah studio setelah akuisisi oleh Disney.

Secara keseluruhan, The New Mutants adalah film yang layak untuk ditonton jika kamu mencari film superhero yang berbeda dari biasanya. Ini adalah perjalanan yang lebih sunyi, lebih gelap, dan lebih personal—dengan sentuhan horor yang membuatnya semakin berani dan unik.

 

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *